Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Forest Products Research and Development Center

PENGUJIAN PENCUACAAN (WEATHERING) KAYU DI PUSLITBANG HASIL HUTAN

06 Desember 2016, 09:57 WIB | Diupload oleh Dede Rustandi

(P3HH FOKUS) BOGOR (3/12/2016) - Dalam pemanfaatan kayu, selain data dan informasi sifat dasar kayu yang meliputi sifat anatomi dan serat, fisis mekanis, kimia, keawetan terhadap organisme perusak, keterawetan, penggergajian, pemesinan, pengeringan, kayu lapis, dan sifat pulp dan kertas, salah satu sifat kayu yang perlu diuji adalah sifat pencuacaan (weathering). Sifat pencuacaan adalah karakteristik kayu selama pengujian di luar ruangan (outdoor) yang terpengaruh langsung oleh cuaca baik penyinaran matahari yang mengandung sinar Ultra Violet (UV), air hujan, pengembunan, dan perubahan suhu dan kelembapan yang fluktuatif. Sifat pencuacaan kayu diperlukan sebagai acuan dalam klasifikasi kayu untuk penggunaan di luar ruangan seperti bangku taman, bangunan gazebo kayu, dan bagian konstruksi atap yang langsung berhubungan dengan cuaca di luar ruangan.

Pada tahun 2016, pengujian sifat pencuacaan kayu menjadi salah satu komponen penelitian tambahan sifat dasar kayu di Puslitbang Hasil Hutan. Pengujian pencuacaan ketahanan kayu dilakukan dengan mengacu pada standar pengujian pencuacaan oleh American Society for Testing and Materials (ASTM) D 358-98 tentang standar pengujian kualitas coating permukaan kayu (Standard Specification for Wood to Be Used as Panels in Weathering Tests of Coatings), sedangkan pengujian kualitas material kayu mengacu pada ASTM D 661-93 tentang standar metode untuk evaluasi retak pada cat di luar ruangan (Standard Test Method for Evaluating Degree of Cracking of Exterior Paints) dan ASTM D 3274-95 tentang standar evaluasi perubahan permukaan material akibat serangan bakteri, jamur, dan akumulasi tanah dan/atau debu (Standard Test Method for Evaluating Degree of Surface Disfigurement of Paint Films by Microbial (Fungal or Algal) Growth or Soil and Dirt Accumulation).

Pengujian kayu dilakukan di luar ruangan tanpa naungan dengan posisi menggantung vertikal dan pengamatan dilakukan selama 1 tahun untuk mewakili bulan basah dan bulan kering. Pengamatan dilakukan secara visual meliputi pecah yang mungkin terjadi dan serangan jamur dan bakteri yang dilakukan setiap bulan. Selain itu, pengamatan juga dilakukan pengamatan terhadap perubahan warna kayu untuk mengetahui efektivitas bahan finishing yang tersedia di pasaran. Contoh uji bebas cacat ukuran 30 x 15 x 2 cm, dikeringanginkan hingga kadar air kering udara relatif seragam 20%, kemudian diketam dan diampelas. Contoh uji dikelompokkan dalam tiga kelompok perlakuan yaitu kelompok dengan bahan finishing Ultran Lasur UV dan Ultran Politur P-03 UV serta satu kelompok kontrol (tidak difinishing). Setelah di-finishing, contoh uji tersebut dikondisikan pada tempat yang bersih dan bebas dari debu selama satu minggu. Kemudian contoh uji yang telah difinishing dipaparkan di bawah pengaruh cuaca secara langsung (Darmawan dan Purba, 2009).

Evaluasi kualitas kayu dilakukan terhadap besarnya persentase permukaan bercacat akibat serangan mikroba (microbial disfigurement), dan retak (cracking). Kondisi permukaan karena serangan mikroba dicirikan oleh adanya noda-noda berwarna gelap pada permukaan lapisan finishing. Metode evaluasi yang digunakan menggunakan perbandingan hasil scanning contoh uji sebelum dan sesudah pengujian di luar ruangan. Selanjutnya kondisi lapisan finishing setiap contoh uji kayu di rangking berdasarkan sebelas kelas sesuai dengan persentase cacat yang terjadi. Pengelompokkan daya tahan lapisan finishing disesuaikan dengan ASTM D 3274-95 dan D661-93 disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Rating mikroba dan retak pada permukaan lapisan finishing

tabelpengeringan2

Pengukuran perbedaan warna dilakukan dengan menggunakan PRECISE COLOR READER WR-10 D65 10°. Pengukuran nilai warna dilakukan berdasarkan sistem CIELab (Commission International de l’Eclairage (CIE) 1976 (L*,a*, b*) ruang warna atau dikenal dengan istilah CIELab sistem. Nilai suatu warna diukur dalam tiga titik koordinat, yaitu L* yang merupakan nilai kecerahan (Lightness, 100 = putih – 0 = hitam), a* merupakan nilai kemerahan (+a* = merah, -a* = hijau) dan b* yang merupakan nilai kekuningan (+b* = kuning, -b* = biru) (Sugiyanto, 2011). Nilai perubahan warna (E*) dihitung berdasarkan perbedaan nilai L*, a* dan b* (Rumus perhitungan 1).

Rumus Pengeringan

pengeringan Krisdianto2

Gambar 1. Uji pencuacaan vertikal di Kampus Litbang, Jl. Gunung Batu 5, Bogor

kayu

Gambar 2. Perbandingan warna kayu meranti bunga sebelum dipaparkan di luar ruangan (awal), dan setelah 1 dan 2 bulan paparan, tanpa perlakuan (A), ultra lasur (B), dan PUV 03 (C)

Dalam pengamatan selama dua bulan, belum terjadi cracking pada lima jenis kayu yang diamati, kecuali pada kayu pasak linggo. Retak tampak mulai pada bulan pertama pengamatan dan diukur untuk mendapatkan data keretakan kayu pasak linggo selama satu tahun pemaparan di luar ruangan (Gambar 3A). Serangan jamur dan bakteri secara visual tampak pada kayu mempisang. Bercak-bercak warna hitam mulai teridentifikasi pada pengamatan bulan pertama dan semakin menyebar pada pengamatan bulan kedua (Gambar 3B). Pengamatan selama dua bulan menunjukkan persentase retakan dan daerah serangan jamur masih dibawah 10%, sehingga belum bisa disimpulkan kualitas kayu di luar ruangan. Pengamatan akan dilanjutkan untuk sepuluh bulan ke depan.

kayu2

Gambar 3. Kayu pasak linggo tanpa perlakuan yang mengalami keretakan (A) dan kayu mempisang tanpa perlakuan yang terserang jamur dan bakteri (B)

Daftar Pustaka
Darmawan, W. dan Purba, I.I. 2009. Daya tahan lapisan finishing eksterior beberapa jenis kayu terhadap pengaruh cuaca. Jurnal Ilmu dan Teknologi Hasil Hutan 2(1):1-8.
(ASTM) American Society for Testing Materials. 1993. ASTM D 661-93: Standard Test Method for Evaluating Degree of Cracking of Exterior Paints. West Conshohocken.
(ASTM) American Society for Testing Materials. 1995. ASTM D 3274-95: Standard Test Method for Evaluating Degree of Surface Disfigurement of Paint Films by Microbial (Fungal or Algal) Growth or Soil and Dirt Accumulation. West Conshohocken.
(ASTM) American Society for Testing Materials. 1998. ASTM D 358-98: Standard Specification for Wood to Be Used as Panels in Weathering Tests of Coatings. West Conshohocken.
Krisdianto, Malik, J., Balfas, J. 2005. Penyempurnaan sifat dan kegunaan kayu mangium. Laporan Hasil Penelitian. Puslitbang Teknologi Hasil Hutan, Balitbanghut.
Sugiyanto, K. 2011. Physical and mechanical modification of the bamboo species (Dendrocalamus asper). PhD Thesis, The University of Melbourne.

Penulis: Krisdianto


Lampiran: 0
Agenda Kegiatan Selengkapnya
Abstrak Jurnal Selengkapnya

Profile Peneliti

Statistik

Video ( Klik gambar untuk memulai )