Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Forest Products Research and Development Center

HASIL IDENTIFIKASI LIMA JENIS KAYU IMPOR DARI SINGAPURA

08 Desember 2016, 15:07 WIB | Diupload oleh Dede Rustandi

(P3HH FOKUS)BOGOR (03/12/16) - Perdagangan bebas di kawasan Asia Tenggara dibungkus dalam sebuah integrasi ekonomi ASEAN dengan nama Masyarakat Ekonomi Asia (MEA) yang telah diberlakukan sejak 2015. Hal ini menyebabkan meningkatnya jumlah tenaga asing masuk ke Indonesia (Tribunnews, 2016; Kompas, 2016; Latief, 2016). Selain peningkatan jumlah tenaga asing, perdagangan hasil hutan kayu antar negara ASEAN juga meningkat. Dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) para pemimpin ASEAN pada tahun 1997 di Kuala Lumpur, seluruh peserta konferensi menyepakati pembentukan MEA dengan empat pilar utama yaitu ASEAN sebagai pasar tunggal dan berbasis produksi tunggal yang didukung dengan elemen aliran bebas barang, jasa, investasi, tenaga kerja terdidik dan aliran modal yang lebih bebas. Kedua, ASEAN sebagai kawasan dengan daya saing ekonomi tinggi dengan elemen peraturan kompetisi, perlindungan konsumen, hak atas kekayaan intelektual, pengembangan infrastruktur, perpajakan, dan e-commerce. Ketiga, ASEAN sebagai kawasan dengan pengembangan ekonomi yang merata dengan elemen pengembangan usaha kecil dan menengah, dan prakarsa integrasi ASEAN untuk negara Kamboja, Myanmar, Laos, dan Vietnam. Keempat, ASEAN sebagai kawasan yang terintegrasi secara penuh dengan perekonomian global dengan elemen pendekatan yang koheren dalam hubungan ekonomi di luar kawasan, dan meningkatkan peran serta dalam jejaring produksi global (Andiani, 2015).

Berdasarkan empat pilar utama MEA tersebut, Asia Tenggara diharapkan dapat menjadi pasar tunggal dimana elemen aliran barang dagangan dari setiap negara Asean menjadi lebih bebas di dalam kawasan Asia Tenggara. Berdasarkan kondisi tersebut, perdagangan hasil hutan terutama kayu juga menjadi lebih bebas di kawasan Asia Tenggara. Sebelum penerapan MEA, perdagangan kayu di kawasan ASEAN sudah terpusat di Singapura, dan setelah penerapan MEA, perdagangan kayu juga masih terpusat di Singapura, namun arus barang keluar masuk dari dan ke negara tersebut menjadi lebih bebas. Beberapa pengusaha industri kayu di Indonesia juga sudah terbiasa membeli kayu dari Singapura, walaupun dikenakan bea masuk yang cukup tinggi. Kayu yang diperdagangkan di Singapura tidak hanya berasal dari Indonesia, namun juga dari berbagai daerah di kawasan Asia, sehingga ada kemungkinan kayu yang masuk/diimpor dari Singapura berasal dari Indonesia.

Pengambilan lima sampel kayu yang diimpor dari Singapura menunjukkan bahwa jenis kayu yang diperdagangkan di Singapura diduga berasal dari Indonesia, karena jenis tersebut tumbuh di hutan Indonesia. Pada umunya penentuan apakah kelima jenis kayu tersebut berasal dari kayu yang tumbuh di Indonesia dapat dilakukan dengan uji DNA kayu dan/atau melalui dokumen penyerta barang. Namun demikian Laboratorium Anatomi Kayu, di Puslitbang Hasil Hutan Bogor hanya memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi jenis kayu dan belum bisa melakukan uji DNA. Kelima jenis kayu dengan kode A, B, C, D, dan E dikumpulkan dari salah satu perusahaan di Jakarta yang membeli kayu dari Singapura. Pengamatan ciri umum terhadap kelima contoh uji dilakukan pada penampang lintang kayu yang telah dihaluskan permukaaannya sesuai pedoman Mandang dan Pandit (2002). Ciri anatomi diamati berdasarkan daftar pengamatan yang telah ditetapkan oleh International Association of Wood Anatomist (IAWA) Committee (Wheeler, Baas, & Gasson, 1989). Penentuan jenis kayu dilakukan berdasarkan program identifikasi jenis yang telah dikembangkan oleh Puslitbang Hasil Hutan (Mandang, 2006).

Berdasarkan identifikasi jenis kayu, diperoleh informasi bahwa kayu A adalah jenis kayu bongin (Irvingia sp.), dari Famili Simarubaceae. Kayu B adalah jenis kayu mahoni (Swietenia sp.) dari Famili Meliaceae, kayu C adalah jenis kayu bintangur (Calophyllum sp.) dari Famili Clusiaceae. Kayu dengan kode D adalah jenis kayu saga (Adenanthera sp.) dari Famili Leguminosae dan kayu E adalah jenis kayu jengkol (Pithecellobium sp.) dari Famili Leguminosae.

Kayusingapura

Kayu A adalah kayu bongin (Irvingia sp.), famili Simarubaceae. Kayu Irvingia malayana memiliki nama dagang ‘kabok’ atau dalam Bahasa Inggris dikenal dengan nama ‘Barking deer’s mango’. Nama daerah kayu bongin adalah ‘kayu batu’ (Kalimantan) dan ‘pauh kijang’ (Sumatera). Sama dengan di Sumatera, kayu bongin juga dikenal dengan nama ‘pauh kijang’ di Malaysia secara umum, dan ‘entilit’ di Malaysia bagian Sarawak serta ‘selangan tandok’ di Malaysia bagian Sabah. Di Myanmar kayu bongin dikenal dengan nama ‘taung-thayet’, sedangkan di Thailand, kayu ini memiliki nama dagang ‘kra bok’ (tengah), ‘ma muen’ (utara), dan ‘maak bok’ (timur laut). Pohon bongin tumbuh secara alami di Myanmar, Thailand, Semenanjung Malaysia, Indonesia terutama Pulau Sumatera, Pulau Bawean, dan Kalimantan (Yusuf, 1998). Pemanfaatan kayu bongin diantaranya untuk peralatan pertanian, bangunan kapal, konstruksi, bubutan, dan alat-alat olah raga.

Kayu B adalah jenis kayu mahoni (Swietenia sp.), famili Meliaceae. Kayu mahoni merupakan salah satu kayu perdagangan yang sangat dikenal dalam industri perkayuan terutama untuk mebel dan konstruksi. Genus Swietenia memiliki 3 jenis yang tersebar secara alami di Amerika bagian tropis, sampai Mexico, Amerika Latin termasuk Bolivia, Peru, dan Brasil. Jenis ini banyak dikembangkan di daerah tropis Asia seperti Indonesia, Malaysia dan Filipina (Prawirohatmadjo, 1994). Jenis ini dikenal dengan nama dagang ‘mahogany’ dan ‘baywood’ dan dalam Bahasa Perancis dikenal dengan nama ‘Acajou’. Di Indonesia kayu ini dikenal dengan nama mahoni, sedangkan di Thailand dikenal dengan nama ‘mahokkani-baiyai’, ‘mahokkani-bailek’, dan di Vietnam dikenal dengan nama ‘gi[as]i ng[uwj]a’.

Kayu C adalah jenis kayu bintangur (Calophyllum sp.), famili Guttiferae. Genus Calophyllum memiliki sekitar 190 jenis, tersebar dari semenanjung Malaysia, Indonesia, micronesia, melanesia dan Australia bagian utara. Kayu ini dikenal dengan nama dagang ‘bintangor’, sedangkan di Malaysia dikenal dengan nama ‘penaga’ (Sabah), dan ‘bakakol, entangor’ (Serawak). Di Filipina kayu ini dikenal dengan nama ‘bintanghol’, di Myanmar dikenal dengan nama ‘tharapi, poon’ dan di Thailand dikenal dengan nama ‘krathing’ dan ‘tanghonbayai’. Di Vietnam, kayu bintangor dikenal dengan nama m[uf]u, c[oof]ng (Lim, 1994). Pemanfaatan kayu bintangur diantaranya untuk mebel, konstruksi, alat musik, bangunan kapal, dan bagian kendaraan.

Kayu D adalah jenis kayu saga (Adenanthera sp.), famili Leguminosae. Genus Adenanthera memiliki 12 jenis yang tersebar dari Srilangka, Myanmar, Cina bagian selatan, Thailand, Malaysia, Indonesia sampai dengan Papua New Guinea, Kepulauan Solomon dan Australia. Genus ini mudah dikembangkan dan banyak ditanam di berbagai lokasi milik negara maupun milik pribadi, sehingga jenis ini sukar untuk dilacak habitat alaminya. Di Indonesia dan Malaysia, jenis yang banyak dikembangkan adalah jeni A. pavonina sebagai tanaman naungan untuk perkebunan kopi, cengkeh dan tanaman karet (Rojo, 1998). Pemanfaatan kayu saga diantaranya untuk bangunan kapal, mebel, tiang penyangga, dan bubutan.

Kayu E adalah jenis kayu jengkol (Pithecellobium sp.), famili Leguminosae. Genus Pithecellobium memiliki nama lain Archiodendron yang terdiri dari 94 jenis yang tersebar dari India, Srilangka, Cina bagian selatan, Taiwan, Myanmar, Thailand, Malaysia, Indonesia, Mikronesia, Kepulauan Solomon, dan bagian timur laut dan timur Australia. Kayu ini dikenal dengan nama dagang Indonesia ‘jengkol’, sedangkan di Malaysia dikenal dengan nama ‘keredas’ (Hanum, 1998). Pemanfaatan kayu jengkol diantaranya untuk mebel, bangunan kapal, konstruksi jembatan, venir dekoratif, patung dan ukiran.

Berdasarkan identifikasi jenisnya secara makroskopis dan mikroskopis, kelima contoh uji telah diketahui jenisnya yaitu kayu bongin, mahoni, bintangur, saga, dan jengkol, Hanya saja negara asal kayu tersebut tidak diketahui secara pasti. Walaupun tidak diketahui asal kayunya, kelima jenis kayu yang diimpor dari Singapura tersebut dapat ditemukan di Indonesia. Kelima jenis kayu tersebut banyak ditemukan di pedagang kayu di Indonesia, sehingga ada kemungkinan ke lima jenis kayu impor tersebut berasal dari Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Andiani, C.H. (2015). Dampak negatif masyarakat ekonomi ASEAN 2015 bagi Indonesia. https://ideasforaec.wordpress.com/2015/10/18/dampak-negatif-masyarakat-ekonomi-asean-2015-bagi-indonesia/
Hanum, F (1998). Archidendron F.v.Mueller. Dalam M.S.M. Sosef, L.T. Hong, & S. Prawirohatmodjo (Eds.). Plant Resources of South-East Asia. Timber trees: Lesser known timbers, 5(3), 84-87. Bogor: Prosea.

Kompas (2016). http://tv.kompas.com/read/2016/01/09/4693355165001/begini.cara.kerja.mea. Diakses 15 April 2016.
Latief. (2016). http.//edukasi.kompas.com/read/2016/02/12/12440631/Peneliti.Keputusan.Pemerintah.
Ikut.MEA.adalah.Tindakan.Gegabah Diakses 15 April 2016.

Lim, S.C. (1994). Calophyllum L. dalam I. Soerianegara & R.H.M.J. Lemmens (Eds.). Plant Resources of South-East Asia, Timber trees: Major commercial timbers, 5(1), 114-132.

Mandang, Y.I. (2006). Digitalisasi basis data xylarium pusat penelitian dan pengembangan hasil hutan Bogor. Info Hasil Hutan, 12 (2), 75-85.

Mandang, Y.I. & Pandit, I.K.N. (1997). Pedoman identifikasi jenis kayu di lapangan. Bogor: Yayasan PROSEA, Pusdiklat Pegawai dan SDM Kehutanan, ITTO.

Prawirohatmadjo, S. (1994). Swietenia Jacq. dalam I. Soerianegara & R.H.M.J. Lemmens (Eds.). Plant Resources of South-East Asia, Timber trees: Major commercial timbers, 5(1), 442-447.

Rojo, P. (1998). Adenanthera L. Dalam M.S.M. Sosef, L.T. Hong, & S. Prawirohatmodjo (Eds.). Plant Resources of South-East Asia. Timber trees: Lesser known timbers, 5(3), 47-50. Bogor: Prosea.

Sulaiman, A. (1994). Swietenia Jacq. dalam I. Soerianegara & R.H.M.J. Lemmens (Eds.). Plant Resources of South-East Asia, Timber trees: Major commercial timbers, 5(1), 442-447.

Tribunews. (2007). http://www.tribunnews.com/nasional/2016/03/30/pekerja-tiongkok-serbu-surabaya-dari-prt-murah-hingga-penjual-sayur-di-kompleks-perumahan Wheeler, E.A., Baas, P., & Gasson, P.E. (1989). IAWA list of microscopic features for hardwood identification. IAWA, 10(3), 219-332.

Yusuf, R. (1998). Irvingia Hook.f. Dalam M.S.M. Sosef, L.T. Hong, & S. Prawirohatmodjo (Eds.). Plant Resources of South-East Asia. Timber trees: Lesser known timbers, 5(3), 301-303. Bogor: Prosea.

Penulis: Dr. Krisdianto

Editor: Dr. Sukadaryati


Lampiran: 0
Agenda Kegiatan Selengkapnya
Abstrak Jurnal Selengkapnya

Profile Peneliti

Statistik

Video ( Klik gambar untuk memulai )