Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Forest Products Research and Development Center

DESA SERENAN: OUTLET KAYU HASIL HUTAN RAKYAT

09 Januari 2017, 14:00 WIB | Diupload oleh Admin

Keterangan gambar: Kayu gelondongan (gambar kiri) dan kayu rencek (gambar kanan) yang disusun secara sederhana (foto : dokumen penulis)

(FOKUS P3HH)Serenan adalah nama desa yang terletak di Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Desa Serenan terletak di perbatasan antara Klaten dan Sukoharjo berjarak sekitar 12 km dari kota Surakarta. Sekilas Desa Serenan tampak sama dengan desa lain yang ada di Klaten, namun salah satu yang menonjol adalah adanya sekitar 20 outlet yang menjual kayu gelondongan di sepanjang jalan yang menghubungkan Kabupaten Klaten dengan Kabupaten Sukoharjo.

Dari outlet kayu gelondongan yang ada di Desa Serenan ini tersebut, setiap orang dapat membeli kayu gelondongan/dolok dari berbagai jenis yang berasal dari kebun/hutan rakyat. Berdasarkan pemantauan langsung, jenis kayu yang paling dijual adalah kayu mahoni (Swietenia sp.) dan jati (Tectona grandis L.f.). Selain kedua jenis tersebut, terdapat pula kayu sengon (Falcataria mollucana), mangga (Mangifera indica), nangka (Artocarpus heterophyllus), salam (Syzygium polyanthum) dan berbagai jenis kayu lain yang diperoleh dari kebun/hutan rakyat. Dari wawancara langsung diketahui bahwa pedagang membeli kayu dari blandhong (penebang pohon) dan/atau langsung dari pemilik tanaman yang ada di sekitar Desa Serenan. Selain itu, kayu juga berasal dari kebun/hutan rakyat di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Variasi sumber dolok inilah yang menjadikan outlet kayu gelondongan selalu memiliki stok kayu gelondongan dan sudah memiliki pelanggan industri besar maupun kecil yang memanfaatkan material kayu sebagai bahan bakunya. Outlet kayu gelondongan di Desa Serenan ini dikelola secara sederhana tanpa perlakuan khusus. Kayu gelondongan yang baru dibeli dari supplier ditumpuk di atas tanah berdasarkan jenis kayu dan keseragaman panjang dolok. Log terkecil memiliki panjang 1 m untuk jenis kayu jati dengan diameter 10-15 cm, sedangkan untuk jenis lain panjang dolok bervariasi antara 1-3 m dengan diameter 15-50 cm. Harga yang disajikan juga bervariasi sesuai dengan jenis dan volume kayu. Dolok mahoni dijual dengan kisaran harga Rp. 500.000,- sampai dengan Rp. 1.700.000,- tergantung kelas kualitas doloknya, sedangkan dolok kayu jati dibandrol dengan harga Rp. 2000.000,- sampai dengan Rp. 7.000.000,-. Harga di outlet tersebut masih bisa ditawar tergantung dari volume dolok yang akan dibeli. Penentuan harga didasarkan pada jenis kayu, panjang, dan diameter dolok kayu serta kualitasnya yang tampak secara visual yaitu apakah dolok tersebut cacat atau tidakSelain dolok kayu, outlet yang ada di kawasan Desa Serenan tersebut juga menjual kayu rencek. Kayu rencek merupakan kayu berupa ranting/cabang pohon maupun sisa penggergajian serta mebel kayu yang sudah rusak. Kayu rencek yang diperdagangkan biasanya dimanfaatkan untuk kayu energi/ kayu bakar, namun ada juga kayu rencek yang dipergunakan sebagai bahan dasar untuk membuat mebel dengan desain khusus yang antik dan unik.

Selain outlet yang menjual dolok dan kayu rencek, di kawasan Desa Serenan ini juga banyak ditemui pengrajin mebel kayu. Di sepanjang jalan antara Klaten-Sukoharjo, tampak outlet penjual mebel kayu dengan berbagai desain dan warna finishing kayu. Mebel yang dijual di kawasan berupa meja, kursi, lemari, tempat tidur, dan berbagai produk mebel lainnya dengan motif ukiran tradisional maupun kontemporer. Selain mebel jadi, di kawasan ini juga menjual mebel kayu setengah jadi. Variasi bahan, jenis kayu, model, dan tingat kehalusan pembuatan mebel kayu menentukan kualitas mebel kayu yang mempengaruhi harga jual mebel kayu tersebut. Secara umum, harga mebel kayu dari Desa Serenan relatif lebih murah dari mebel kayu dari Surakarta, Semarang maupun Jepara.

Desan2

Keterengan gambar: Salah satu produk mebel ukir jadi dan setengah jadi dari Desa Serenan.(sumber:https://nonobudparpora.wordpress.com/wisata-kerajinan-di-kabupaten-klaten/)

Outlet dolok kayu dan produksi ebel kayu di Desa Serenan mengindikasikan maraknya jual/beli dolok kayu dari hutan rakyat sebagai bahan baku industri dan peran hutan rakyat dalam menjalankan perekonomian pedesaan terutama dalam industri kayu. Peran hutan rakyat dalam memasok dolok kayu untuk industri telah dirasakan oleh industri pengolah kayu skala besar maupun skala rumah tangga.Sebagai gambaran pada tahun 2015 kebutuhan dolok kayu untuk industri pertukangan di Jawa Tengah diperkirakan mencapai 1,1 juta m3, sedangkan Perum Perhutani hanya mampu menyediakan kayu sebanyak 150 ribu m3, dan kekurangan pasokan selebihnya dipenuhi dari hutan rakyat (Nurdin, 2015). Desa Serenan saat ini telah menjadi show window keberhasilan hutan rakyat dalam menyuplai kayu pertukangan, dan hal ini perlu diapresiasi dengan memberikan dukungan yang lebih nyata. Penyuluhan dan pendampingan bagi para pedagang dan pelaku bisnis kayu rakyat tentang bagaimana perlunya Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) perlu dilakukan agar para pedagang dan pengrajin mampu mengembangkan bisnisnya dan dapat mengekspor produk kayunya ke pasar Eropa.

Daftar Pustaka
Nurdin, N. (2015). SVLK dan Hutan Rakyat, http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/12/15/ 092603226/SVLK.dan.Hutan.Rakyat, diakses 28 Desember 2016.
Lugtyastyono. (2010). Wisata Kerajinan Klaten, https://nonobudparpora.wordpress.com/wisata-kerajinan-di-kabupaten-klaten/, diakses 28 Desember 2016.

Penulis: Esti Rini Satiti, S.Hut

Editor: Dr. Krisdianto


Lampiran: 0
Agenda Kegiatan Selengkapnya
Abstrak Jurnal Selengkapnya

Profile Peneliti

Statistik

Video ( Klik gambar untuk memulai )