Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Forest Products Research and Development Center

SOSIALISASI ARN, RIRIN DAN PUI

03 Februari 2017, 16:17 WIB | Diupload oleh Dede Rustandi

Prof. (Riset) Dr. Gustan Pari menyampaikan presentasi ARN, RIRIN dan PUI

(P3HH INFO) BOGOR - Selasa, 31 Januari 2017, Pusat Litbang Hasil Hutan (P3HH) mengadakan Sosialisasi Agenda Riset Nasional (ARN) 2016-2019, Rencana Induk Riset Nasional (RIRIN) dan Pusat Unggulan IPTEK (PUI) kepada para penelitinya di Ruang Cendana, Kampus Gunung Batu, Bogor.

Saat membuka acara, Kepala Bidang Pengembangan Data dan Tindak Lanjut Penelitian P3HH, Ir. Adang Sopandi, M.Sc menyampaikan tujuan dari sosialisasi tersebut. Prof. (Riset) Dr. Gustan Pari, peneliti yang pernah ditugaskan mengikuti perkembangan program tersebut diminta menjelaskan penelitian P3HH yang bagaimana yang masuk dalam ARN, RIRIN dan PUI.

Dengan begitu, penelitian dapat memenuhi target, kualitas penelitian, manfaat penelitian serta mengikuti perkembangan penelitian terakhir dengan mengikuti agenda-agenda research secara nasional. Untuk itu, Dr. Krisdianto, peneliti anatomi kayu ditunjuk untuk mendata penelitian mana yang termasuk unggulan di P3HH.

Dalam paparannya, Prof. Dr. Gustan Pari menjelaskan, salah satu kaidah menetapkan penelitian unggulan dalam program yang dimulai sejak tahun 2015 ini adalah unggul, berdaya saing dan inovatif. Agar dapat berkontribusi, menurut Gustan, harus ada perwakilan dari setiap Kelompok Peneliti (Kelti) P3HH.

Lebih lanjut Gustan mengatakan, kriteria penelitian unggulan, salah satunya harus didasarkan pada manajemen yang disertifikasi dari instansi yang berwenang. Di Indonesia sertifikat tersebut diberikan oleh Komite Nasional Standardisasi Pranata Penelitian dan Pengembangan (KNAPPP), dimana P3HH sudah mempunyai sertifikat tersebut.

Terkait itu, kepada BPPT, Gustan mengusulkan supaya PUI disatupaketkan dengan KNAPPP. Setiap instansi yang telah memiliki sertifikat KNAPPP harusnya menjadi prioritas PUI sehingga penelitian menjadi lebih berkualitas. BPPT menerima usulan tersebut. Dengan demikian, bagi instansi dengan sertifikasi KNAPPP, minimal 70% sudah jadi penelitian ungggulan.

Gustan menjelaskan, PUI harus memenuhi syarat diantaranya daya saing lembaga tinggi, program penguatan kelembagaan tinggi, sumber daya manusia yang berkualitas, penelitian dan pengembangan satu paket.

“Program penguatan riset dan pengembangan ditambahkan dengan inovasi karena apabila tidak ada inovasi, tidak ada kebaruan dan nilainya rendah. Program inovasi kebaruan penelitian dan program penguatan inovasi,” kata Gustan yang menjelaskan target PUI tahun 2017 ini adalah 30 Iptek.

Menurut Gustan, adanya kesamaan bidang penelitian seperti lignoselulosa antara LIPI dan P3HH juga perlu menjadi perhatian khusus. Penelitian tersebut sudah diajukan oleh LIPI jadi PUI Pengolahan Lignoselulosa sehingga P3HH tidak perlu mengajukan usulan yang sejenis.

PUI harus menjawab tantangan Indeks Daya Saing (WEF 2015), kapasitas inovasi Indonesia yang rendah, upaya Kemenristekdikti meningkatkan daya inovasi dan daya saing Indonesia dan penguatan kelembagaan Iptek. Menurut data global competitiveness index 2014-2015 Indonesia berada diperingkat 34, untuk itu salah satu upaya untuk mengingkatkan index tersebut yaitu dengan penelitian unggulan. Kapasistas, kualitas, komparasi, di BBPT membentuk indek ini.

PUI adalah suatu organisasi baik berdiri sendiri maupun berkolaborasi dengan organisasi lainnya (konsorsium) yang melaksanakan kegiatan-kegiatan riset spesifik secara multi dan interdisiplin dengan standar hasil yang sangat tinggi serta relevan dengan kebutuhan pengguna Iptek.

Untuk menilai PUI harus memiliki unsur penting diantaranya organisasi; kegiatan riset dengan standar sangat tinggi; hasil riset dengan standar sangat tinggi; fokus pada bidang atau teknologi spesifik; dan relevan dengan kebutuhan pengguna Iptek.

Kegiatan riset dengan standar sangat tinggi artinya kegiatan penelitian, pengembangan dan penerapan Iptek yang dilakukan dengan standar operasional prosedur bertaraf nasional dan atau Internasional.

Hasil riset dengan standar sangat tinggi artinya hasil dari kegiatan yang dilakukan oleh PUI harus memenuhi standar nasional dan internasional baik kualitas, kuantitas maupun keberlanjutannya.

Fokus pada bidang atau teknologi spesifik artinya alah kegiatan yang dilakukan oleh PUI harus mengarah pada tujuh bidang fokus Iptek serta amanat nawacita.

Relevan dengan kebutuhan pengguna Iptek artinya keluaran riset sesuai dengan kebutuhan pengguna Iptek dan mampu menyelesaikan permasalahan nyata serta tercipta keterkaitan (jejaring) antara penghasil dan pengguna Iptek.

Tujuan dan manfaat lembaga PUI adalah mendapatkan pembinaan (fasilitasi dan asistensi) secara kelembagaan dengan tujuan meningkatkan kinerja lembaga litbang baik pada sisi absorptive capacity, R & D capacity dan disseminating capacity sehingga dapat berkontribusi lebih besar dalam pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Mendapatkan dukungan pendanaan yang dapat digunakan untuk bantuan pelaksanaan operasional pengembangan PUI Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi setiap tahun selama maksimum tiga tahun.

Diharapkan lembaga litbang menyediakan dana pendampingan sebesar minimum 10% dari total dukungan pendanaan yang diperoleh. Mendapatkan kemudahan (prioritas-previlege) dalam perolehan paket insentif dari skema kegiatan insentif yang ada pada Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

P3HH melalui kelti-kelti akan melakukan inventarisasi dan menyampaikan topik usulan sebagai Pusat Unggulan Iptek di bidang pengolahan hasil hutan kayu dan non kayu. (|*|)


Penulis: Dede Rustandi

Editor: Gunawan Pasaribu, M.Si


Lampiran: 0
Agenda Kegiatan Selengkapnya
Abstrak Jurnal Selengkapnya

Profile Peneliti

Statistik

Video ( Klik gambar untuk memulai )