Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Forest Products Research and Development Center

TEKNIK PENGELUARAN DOLOG TUSAM DENGAN SEPEDA MOTOR YANG DIREKAYASA

28 Februari 2017, 14:40 WIB | Diupload oleh Dede Rustandi

(P3HH FOKUS) - Teknik pengeluaran dolog jenis tusam (Pinus merkusii) di hutan Pulau Jawa umumnya dilakukan secara manual yaitu dengan cara dipikul atau dengan cara ngglebeg. Dengan metode ini, dolog didorong dengan menggunakan alat bantu bambu. Cara ini dianggap lebih praktis dan ekonomis, walaupun tidak demikian adanya. Cara manual maupun cara ngglebeg tersebut memiliki banyak kelemahan, diantaranya pekerja (blandong) akan merasakan beban kerja yang cukup berat. Hal ini akan mengakibatkan kelelahan fisik yang cukup berat seperti pegal–pegal, linu dan kelelahan. Cara kerja seperti ini dianggap tidak manusiawi dan tidak ergonomis karena tidak menciptakan kenyaman saat bekerja dan adanya resiko kecelakaan yang tinggi.

Di sisi lain, lokasi penebangan pohon kebanyakan berada di daerah pegunungan dengan kondisi lapangan bertopografi lebih dari 20% dan diameter kayu tidak terlalu besar (30–45 cm) serta potensi tebangan di atas 1000 m3. Dengan kondisi lapangan yang berbukit-bukit dan jarak angkut yang cukup jauh, tidaklah memungkinkan pengeluaran dolog dilakukan dengan cara manual (dipikul atau ngglebeg). Oleh karena itu perlu disediakan alat bantu yang efisien, praktis dan ekonomis dalam mengeluarkan dolog tersebut, yaitu dengan merekayasa sepeda motor. Model motor yang direkayasa dapat dilihat pada Gambar 1.

I. REKAYASA SEPEDA MOTOR

Bahan utama yang digunakan berupa sepeda motor merk Yamaha Firz 110 dan Suzuki Bravo 100, sedang bahan pembantu terdiri dari potongan pelek almunium/roda sepeda bekas, potongan plat besi, bahan bakar premium, oli, baud, gergaji logam dan alat ukur.
Tahapan awal yang dilakukan dalam merekayasa sepeda motor ini adalah merangkai dan merubah bentuk motor sedemikian rupa sehingga dapat digunakan untuk mengangkut kayu. Berikut disajikan tahapan-tahapannya.

- Membuka spatbor depan dan belakang
- Memperpendek tempat dudukan busa
- Merubah tuas injakan rem dari semula pendek menjadi agak panjang
- Merubah tuas injakan gigi dari semula pendek menjadi panjang
- Membuka kap depan pelindung tutup lutut kaki sedemikian rupa sehingga hanya tulang rangka motor saja yang tertinggal
- Membuka tutup lampu depan dan menambah/memasang plat aluminium potongan roda sepeda di depan rangka tulang motor


II. UJICOBA PENGELUARAN DOLOG

Lokasi uji coba pengeluaran dolog tusam menggunakan sepeda motor rekayasa dilakukan di areal kerja BKPH Sagaranten, KPH Sukabumi, Perum Perhutani Unit III Jawa Barat. Sepeda motor rekayasa yang digunakan berjumlah 2 (dua) unit yaitu sepeda motor merk Yamaha Friz (A) dan Suzuki Bravo (B).

Dalam pengoperasiannya, gigi satu (perseneleng satu) digunakan pada awal pergerakan dengan kecepatan berkisar 5–10 km/jam, sedang gigi dua digunakan pada saat perjalanan sudah stabil atau pada saat melewati tanjakan/turunan, dengan kecepatan ± 10 km/jam. Gigi tiga digunakan saat melewati jalan yang datar dan kering dengan kecepatan 10–20 km/jam.

Produktivitas pengeluaran dolog yang dihasilkan sepeda motor A dan B berturut-turut sebesar 1,02 m3/jam.hm dan 1,12 m3/jam.hm. Produktivitas rata–rata pengeluaran dolog dengan menggunakan kedua sepeda motor tersebut sebesar 1,07 m3/jam.hm. Jika dibandingkan dengan cara manual, baik ngglebeg atau dipikul, produktivitas pengeluaran kayu menggunakan sepeda motor lebih tinggi. Rata-rata produktivitas pengeluaran kayu dengan cara nggelebeg dan dipikul masing-masing sebesar 0,1 m3/jam hm (Idris & Soenarno, 1983) dan 0,44 m3/jam hm (Basari, 2008).

Biaya pengeluaran dolog dengan sepeda motor A dan B masing–masing sebesar Rp 9.850,00/m3hm dan Rp 8.971,00/m3hm. Rata–rata biaya pengeluaran dolog dengan kedua tipe sepeda moter tersebut sebesar Rp 9.410,-/m3hm. Biaya tersebut lebih murah dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan secara ngglebeg, yaitu sebesar Rp. 50.000,-/m3hm (Basari, 2010).

Sepeda motor yang direkayasa sebagai alat bantu pengeluaran dolog tusam dianggap lebih baik karena produktivitasnya cukup tinggi dan biaya yang dikeluarkan relatif murah. Namun demikian ada beberapa kelemahan penggunaan sepeda motor sebagai alat pengeluaran dolog, yaitu: 1). harga investasi awal cukup mahal, yaitu untuk membeli sepeda motor; 2). memerlukan keahlian khusus sebagai mekanik motor, 3). suku cadang tidak mudah tersedia, biasanya ada di kota; 4). hanya dapat dilakukan oleh tenaga kerja yang berpengalaman. Sementara itu kelebihannya adalah: 1). dalam pengoperasiannya tidak tergantung cuaca, 2). kecepatan tinggi, 3). Bias diandalkan meskipun melalui tanjakan/turunan; 3). lebih menghemat waktu dan biaya.

Pada Gambar 2, disajikan model sepeda motor yang direkayasa untuk mengeluarkan dolog

RekSeMotor1

Untuk mengetahui secara detail, dapat dibaca pada Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 28 No. 4 tahun 2010 dengan judul Produktivitas Pengeluaran Kayu Tusam (Pinus Merkusii) dengan Sepeda Motor yang Dimodifikasi Di Perum Perhutani Unit III Jawa Barat oleh Basari. Z. (ZKR)

Penulis:Zakaria Basari, BScF & Dr. Sukadaryati

Editor: Gunawan Pasaribu, M.Si


Lampiran: 0
Agenda Kegiatan Selengkapnya
Abstrak Jurnal Selengkapnya

Profile Peneliti

Statistik

Video ( Klik gambar untuk memulai )