Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Forest Products Research and Development Center

P3HH SELENGGARAKAN KERJASAMA ALIH TEKNOLOGI APLIKASI ALAT UKUR DIAMETER POHON “WESYANO” DAN ALAT PENDETEKSI KAYU GEROWONG  DI PT. KAYU TRIBUANA RAMA

14 Maret 2017, 09:10 WIB | Diupload oleh Dede Rustandi

Karyawan PT. KTR sedang diskusi mengikuti kegiatan alih teknologi dengan Narasumber dari P3HH

(P3HH INFO)(Kotawaringin Timur, Kalteng) - Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan (P3HH) selenggarakan kegiatan Alih Teknologi Aplikasi Alat Ukur Diamater Pohon “Wesyano” dan Alat Pendeteksi Kayu Gerowong terhadap karyawan PT. Kayu Tribuana Rama (PT KTR) di Base Camp PT. KTR Kabupaten Kota Waringin Timur, Provinsi Kalimantan Tengah. Kegiatan tersebut sebagai tindaklanjut dari telah ditandatanganinya naskah Perjanjian Kerja Sama (PKS) untuk jangka waktu 3 tahun, antara Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan (P3HH) dengan salah satu pemegang areal konsesi Ijin Usaha Pengusahaan Hasil Hutan Kayu - Hutan Alam (IUPHHK-HA) PT. KTR. Kegiatan tersebut diselenggarakan pada 2 - 7 Maret 2017 lalu. Acara dibuka oleh Camp Manager PT. KTR (Ir. Halimansyah) diikuti dengan antusias oleh 17 orang peserta dari jajaran manajemen PT. KTR di Camp terdiri dari Bagian Perencanaan, Bagian Produksi dan Bagian Pembinaan Hutan serta beberapa orang petugas lapangan, demikian disampaikan Ir. Adang Sopandi, M.Sc selaku Kepala Bidang Pengembangan Data dan Lanjut Penelitian P3HH pada Jum’at (8/03/2017) selepas mengikuti kegiatan tersebut di Bogor.

Lebih lanjut Adang menjelaskan bahwa, selaku narasumber yang menyampaikan materi tersebut adalah 2 orang peneliti yaitu Ir. Soenarno, M.Si dan Wesman Endom, M.Sc. serta 1 orang teknisi P3HH (Yayan Sugilar) yang berasal dari Kelompok Peneliti (Kelti) Keteknikan Kehutanan dan Pemanenan Hasil Hutan serta didampingi Kepala Bidang PDTLP, selaku perwakilan manajemen P3HH. Dalam alih teknologi tersebut Tim membawa prototiype 3 unit alat ukur diameter “Wesyano” dan 1 unit alat deteksi kayu gerowong hasil rekasaya P3HH untuk digunakan di PT. KTR sebagai bagian dari realisasi kegiatan kerjasama antara kedua belah pihak.

“Harapan kami, semoga selepas kegiatan ini, jajaran manajemen PT. KTR dan petugas lapangan terkait dapat mengaplikasikan sendiri penggunaan alat tersebut di lapangan, sehingga kegiatan inventarisasi tegakan sebelum penebangan (ITSP) sebagai dasar penyusunan rencana tebangan dapat lebih optimal dan menghasilkan data kayu sebagai potensi tebangan lebih akurat, dan dalam kegiatan pemanenan kayu mendapatkan hasil lebih optimal”, demikian kata Soenarno menambahkan.

Lebih lanjut Soenarno menjelaskan bahwa materi alih teknologi yang disampaikan selain teori berupa presentasi dan diskusi di ruangan (kelas), juga dipraktekan langsung di lapangan oleh peserta menggunakan kedua alat tersebut. Selain itu, sebenarnya terdapat materi lain yang disampaikan juga, yaitu materi teknik penebangan. Akan tetapi kerena pada pelaksanaanya terdapat adanya hambatan teknis, sehingga praktek teknis tebangan hanya disampaikan secara teori saja.

Untuk alat ukur diameter “Wasyano” ini merupakan prototype alat hasil pengembangan dari alat serupa sebelumnya yang telah ditingkatkan kualitas maupun fungsinya, hingga lebih praktis dan ergonomis bagi kegiatan pengukuran pohon-pohon besar di hutan alam. Hal ini karena “Wesyano” mampu mengukur diameter pohon besar berbanir tinggi sampai tinggi 2,5 m di atas tanah.

Sedangkan nama “Wesyano” diambil dari akronim 3 orang nama penemu alat (inventor) tersebut yaitu: Wesman, Yayan dan Soenarno. Sedangkan untuk alat pendeteksi kayu gerowong dirancang untuk membantu petugas inventarisasi pohon (ITSP), guna mendeteksi kualitas kayu yang akan ditebang, sehingga memudahkan petugas lapangan dalam mengetahui kualitas pohon yang ada tersebut, dan dapat diketahui kayunya benar benar memenuhi syarat dan layak atau tidak untuk ditebang. Karena sebelumnya seringkali dijumpai dalam kegiatan tebangan di hutan alam, dimana pohon yang telah ditebang banyak ditemukan kayunya gerowong (berlubang bagian dalamnya) sehingga tidak dapat dimanfaatkan. Oleh karenanya dengan diketahuinya kualitas pohon tersebut gerowong atau tidak, maka kegiatan tebangan lebih optimal, demikian kata Soenarno.

Ktr2a

Prototype alat ukur diameter pohon “Wesyano” hasil rekayasa peneliti P3HH



Ktr3a

Prototype alat pendeteksi kayu gerowong semi mekanis, hasil rekayasa peneliti P3HH

Dalam hal tingkat akurasi alat tersebut, Adang menjelaskan bahwa pada saat praktek penggunaan alat pada pelatihan singkat tersebut, telah dilakukan pengukuran terhadap 90 pohon dan dilakukan pengeboran terhadap 10 pohon yang diduga gerowong. Sebagai perbandingan keakuratan dan kecepatan hasil pengukuran dilakukan juga pengukuran dengan pita ukur. Berdasarkan hasil evaluasi ternyata alat ukur diameter Wesyano cukup akurat dengan akurasi berkisar antara 98-99,3% dan kecepatan pengukuran antara 2-5 kali lebih cepat dibandingkan dengan pengukuran dengan menggunakan pita ukur. Alat dapat dipakai untuk mengukur pohon sampai diameter 90 cm. Alat ukur Wesyano jauh lebih cepat untuk kayu yang berukuran besar >60 cm dan pohon berbanir. Hasil pengukuran dengan pita ukur selalu lebih besar sekitar 2-4 cm karena pada saat melilitkan ke pohon mungkin tidak lurus dan tidak benar-benar nempel di pohon.

Ktr4a

Petugas PT. KTR melakukan praktek pengukuran diameter pohon berbanir tinggi menggunakan “Wesyano” di areal tebangan PT. KTR


Sedangkan pada praktek deteksi kayu gerowong, dari 10 pohon yang diduga gerowong setelah dicek menggunakan alat hasil rekayasa Tim P3HH, ternyata hanya 8 pohon yang terbukti gerowong, berarti akurasi perkiraan manual hanya 80%, masih ada 20% potensi kayu yang tidak dimanfaatkan, kata Adang.

Ktr5a

Contoh aplikasi deteksi kayu gerowong menggunakan alat hasil rekayasa P3HH

Pada kesempatan terpisah, Kepala Bagian Perencanaan PT. KTR (Ir. Edhis Bambang) mengungkapkan sangat mengapresiasi adanya alat ukur diameter “Wesyano” dan alat pendeteksi kayu gerowong tersebut, dan berjanji akan langsung dipergunakan pada saat ITSP di petak tebangan mulai bulan ini dan pengukuran selanjutnya.

Sedangkan menurut Adang, berdasarkan hasil evaluasi pengunaan alat dan masukan dari peserta pelatihan maka selanjutnya Tim P3HH akan menyempurnakan lagi alat hasil rekayasa tersebut meliputi:
a. Penunjuk skala pada alat ukur diameter, akan diperpendek karena yang terpakai hanya sampai 90 cm.
b. Tongkat ukur diharapkan dapat dilipat seperti “tongsis” agar lebih praktik pada saat membawa ke lapangan.
c. Akan diupayakan dibuat 2 skala pembacaan diameter untuk yang diameter kecil dan diameter besar.
d. Mata bor alat pendeteksi gerowong akan disempurnakan karena yang ada saat ini terlalu kecil dan terlalu lentur.
e. Panjang selang ke mata bor akan diperpanjang karena untuk pohon berukuran besar (diameter >75 cm) tidak sampai.
f. Diupayakan dilengkapi dengan alat penekan mata bor untuk mempercepat masuknya mata bor ke kayu yang dideteksi.


Penulis : Erna Murtiningsih dan Ayit T. Hidayat
Editor : Ayit T. Hidayat, M.Sc


Lampiran: 0
Agenda Kegiatan Selengkapnya
Abstrak Jurnal Selengkapnya

Profile Peneliti

Statistik

Video ( Klik gambar untuk memulai )