Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Forest Products Research and Development Center

ALIH TEKNOLOGI IDENTIFIKASI KAYU: OPTIMALISASI HASIL PENELITIAN SIFAT DASAR KAYU

23 Mei 2017, 08:18 WIB | Diupload oleh Dede Rustandi

Foto bersama selepas pembukaan Alih Teknologi Identifikasi Kayu oleh Kepala Pusat Litbang Hasil Hutan


(P3HH INFO)BOGOR, 17 April 2017 - Identifikasi kayu merupakan suatu proses penentuan jenis kayu berdasarkan struktur anatomi kayu. Pengetahuan suatu jenis kayu sangat penting tidak hanya untuk menentukan penggunaannya, namun juga dalam penentuan besarnya iuran hasil hutan. Setelah diketahui jenisnya, kayu dapat dimasukkan dalam beberapa kelompok jenis kayu perdagangan yang memiliki perbedaan tarif dan juga untuk mengetahui legalitas perdagangan kayu. “Kemampuan identifikasi akan membantu petugas di lapangan dalam menentukan jenis kayu, dan selanjutnya menentukan besaran iuran hasil hutan dan/atau mengetahui boleh tidaknya suatu kayu diperdagangkan,” kata Dr.Ir. Dwi Sudharto, MSi., selaku Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan. Dr. Dwi Sudharto juga menambahkan dengan diketahuinya suatu jenis kayu, maka Penghasilan Negara Bukan Pajak (PNBP) juga berpotensi untuk ditingkatkan. “saat ini, jenis kayu yang tidak diketahui jenisnya sesuai aturan akan dimasukkan dalam kelompok rimba campuran yang memiliki tarif PNBP paling rendah, sedangkan kayu yang telah diketahui jenisnya akan masuk dalam jenis kayu perdagangan dengan tarif PSDH yang lebih tinggi,” kata Dr. Dwi Sudharto. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan dalam pembukaan acara alih teknologi identifikasi kayu yang diselenggarakan pada 17 – 21 April 2017 di Ruang Cendana, Puslitbang Hasil Hutan, Bogor.

Alih teknologi diikuti oleh 20 peserta dari Kantor Wilayah Bea Cukai Jakarta yang akan belajar mengenai cara identifikasi kayu dan peralatan yang dibutuhkan serta pangkalan data jenis kayu yang dibutuhkan. Lebih lanjut Kepala Pusat Litbang Hasil Hutan menyampaikan bahwa Alih Teknologi Identifikasi Kayu ini merupakan langkah awal untuk memberikan kontribusi lebih lanjut dalam bentuk kerjasama dengan instansi Bea dan Cukai untuk meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia Bea Cukai dan menjadi sarana kontribusi peneliti P3HH dalam memasyarakatkan ilmu pengetahuan anatomi kayu.

Sumber daya laboratorium anatomi kayu relatif dapat diandalkan karena didukung oleh adanya Xylarium Bogoriense 1915 yang memiliki koleksi kayu autentik sebanyak 45 ribu spesimen yang termausk dalam 3.667 jenis kayu. Koleksi kayu Xylarium Bogoriense 1915 inilah yang menjadi dasar dalam identifikasi kayu. Saat ini, laboratorium anatomi kayu telah terakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) dan menjadi laboratorium uji identifikasi kayu. Kantor Bea dan cukai Jakarta merupakan salah satu pelanggan jasa identifikasi laboratorium anatomi kayu. Dengan adanya alih teknologi identifikasi kayu ini diharapkan petugas bea cukai di lapangan dapat mengidentifikasi jenis kayu yang relatif mudah, sedangkan untuk jenis yang sukar dapat dikerjasamakan dengan laboratorium anatomi kayu di Bogor.

Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Jakarta, Witarto Wibowo, MSc., yang mendampingi peserta dari kantor bea cukai menyampaikan bahwa saat ini teknik penyelundupan barang ilegal ke Indonesia sudah semakin maju. Beberapa hal yang berkaitan dengan kayu adalah impor produk kayu yang dimodifikasi untuk penyelundupan narkoba. Pigura kayu yang terbentuk dari kayu utuh, ternyata bagian dalamnya dipakai sebagai tempat penyimpan narkoba. Selain itu, adanya perdagangan jenis-jenis kayu yang dilindungi seperti ramin dan gaharu menempatkan petugas bea an cukai dalam posisi sulit, karena belum memiliki pengetahuan tentang identifikasi kayu. Untuk itu, Kepala Kanwil Bea Cukai menyambut baik alih teknologi identifikasi kayu dan menyatakan apresiasi kepada P3HH yang telah mau berbagi ilmu identifikasi, sehingga petugas bea dan cukai di lapangan terbantu dalam melaksanakan tugasnya.

Dengan kemampuan identifikasi kayu, petugas bea dan cukai diharapkan dapat mengendalikan perdagangan kayu antar negara melalui pelabuhan Tanjung Priok dan dapat memeriksa kesesuain jenis kayu dengan dokumen yang menyertainya. Petugas dapat langsung mengambil tindakan terkait dengan jenis kayu yang diperiksa. Dalam sambutannya, Kepala Kanwil Bea Cukai Jakarta, Witarto Wibowo, MSc. menyampaikan bahwa jalinan kerjasama antara P3HH dengan Kantor Bea Cukai masih dibutuhkan, tidak hanya dalam membantu identifikasi kayu, namun juga dalam memberikan dukungan data dan informasi jenis-jenis kayu yang dilindungi dan sifat-sifat kayunya. (|*|)

alih1a

Kepala Bea dan Cukai Wilayah Jakarta, (Witarto Wibowo, M.Sc) menyampaikan sambutan



alih2a

Peserta Alih Teknologi Identifikasi Kayu

Penulis: Dede Rustandi

Editor: Dr. Krisdianto


Lampiran: 0
Agenda Kegiatan Selengkapnya
Abstrak Jurnal Selengkapnya

Profile Peneliti

Statistik

Video ( Klik gambar untuk memulai )