Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Forest Products Research and Development Center

POTENSI WISATA HUTAN PRODUKSI BEKAS TEBANGAN DI KABUPATEN TELUK WONDAMA

31 Agustus 2017, 14:21 WIB | Diupload oleh Dede Rustandi

Gambar 1. Grafik kerapatan jenis pohon di kawasan hutan produksi

I. KONDISI HUTAN

Diketahui bahwa luas kawasan hutan produksi di Kabupaten Wondama adalah ± 122.573,10 ha atau 26 % dari total seluruh kawasan hutan (Profil wilayah Provinsi Papua Barat tahun 2016). Informasi hasil kajian tentang potensi wisata alam di kawasan hutan produksi bekas tebangan di daerah tersebut masih sangat jarang oleh karena itu hal tersebut perlu disampaikan. Objek yang dikaji diantaranya adalah tentang potensi jenis kayu dan potensi wisata alam yang berada di kawasan hutan produksi kabupaten Teluk Wondama.

Lokasi kajian dilaksanakan di daerah kelompok hutan DAS Kuri – DAS Teluk Umar dengan ketinggian tempat ± 1.113 m dpl, wilayah kerja perusahaan IUPHHKA PT. Wijaya Sentosa (PT WS) pada tahun 2016. Hasil kajian dari seluas petak coba seluas 1 Ha menunjukkan ada 32 jenis pohon dengan nama daerah. Dominasi jenis yang tertinggi adalah jenis jambu-jambuan dengan potensi rata –rata 65 batang/Ha atau kerapatan relatifnya mencapai 21,1%. Sedangkan kerapatan jenis yang terendah adalah jenis Pala hutan, nyatoh, nibung, dua banga, kedongdong hutan, sukun, dan dahu di mana masing-masing besarnya 1 batang/Ha atau kerapatan relatifnya rata-rata masing-masing 0,32%. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada grafik Gambar 1 berikut.

Penting diketahui, bahwa selain jenis pohon di atas jenis kayu primadona untuk daerah Papua adalah kayu Merbau (Intia bijuga). Kayu ini mempunyai kelas berat jenis 0,84 dengan kelas kuat I dan keawetan kayu kelas I – II, kayu kering ketahanan terhadap rayap termasuk kelas II sedang ketahanan terhadap jamur pelapuk termasuk kelas I - II (Atlas kayu Indonesia. 2005). Batang kayunya sangat keras seperti besi. Jika sudah diolah menjadi kayu pertukangan atau mebel, permukaannya terlihat licin dan mengkilap indah sehingga tidak bisa dipungkiri jika kayu merbau di Papua ini menjadi incaran banyak orang baik secara legal maupun illegal.

Dari Gambar grafik di atas menunjukkan, bahwa jenis kayu Merbau mempunyai kerapatan 4 batang /Ha atau hanya 1,29% dari total populasi seluruh jenis pohon yang tumbuh di areal kajian. Dengan melihat sangat kecilnya populasi Merbau ini maka pengelola kawasan hutan produksi perlu lebih arif dalam pemanfaatannya. Selanjutnya dari hasil perhitungan juga diketahui bahwa jumlah volume pohon mulai dari diameter 10–19 cm (tingkat tiang) sampai dengan tingkat tegakan (20 – 40 cm ke atas) mencapai 1067,04 m3 /Ha. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa areal hutan bekas kegiatan produksi yang diteliti ini potensi kayunya masih tinggi, bahkan hampir setara dengan hutan virgin. Namun demikian bukan berarti boleh dipanen secara semena-mena tetapi tetap pemanenannya harus berdasarkan peraturan yang ditetapkan oleh pihak yang berwenang.

Semua jenis pohon yang tumbuh di kawasan hutan ini sudah diidentifikasi oleh perusahaan PT. WS sehingga terlihat sangat jelas dari lebel pohon tersebut identitasnya mulai dari nama pohon, diameter pohon, pohon inti, pohon produksi dan pohon yang dilindungi semuanya dapat diketahui. Penyebaran pohon yang berlebel tersebut oleh perusahaan sudah digambarkan dalam peta kerja perusahaan sehingga informasi yang ada dalam peta kerja tersebut sebenarnya selain sangat berguna bagi perencanaan tata kelola kawasan hutan (RKT atau RKU) juga sangat berguna bagi kegiatan wisata pendidikan flora-fauna, pendidikan survival yang biasa dilakukan oleh militer dan wisata penjelajahan gunung hutan (tracking). Nampaknya kegiatan hal ini oleh para pemegang kebijakan pemerintah setempat kurang diperhatikan padahal kondisi alam sangat memungkinkan bahkan sangat layak bilamana wisata alam yang ada di daerah ini ditampilkan ke tingkat dunia.

Dewasa ini hutan alam yang masih dapat dipertahankan sebagai paru-paru dunia di Indonesia ini nampaknya adalah hanya tinggal Provinsi Papua dan Papua Barat. Oleh karena itu seyogyanya seluruh pemangku kepentingan perlu meningkatkan upaya kepedulian dan kelestarian terhadap Hutan Alam Tropica Indonesia (HATI).

II. WISATA PANTAI

Perjalanan yang nyaman ke lokasi kawasan hutan produksi adalah melalui laut dengan airnya yang hijau dengan menggunakan perahu Tugboat bermesin 20 PK dengan memakan waktu ± 1 jam. Dengan menembus ombak dan menyusuri pantai kita sampai di Darmaga Simei yang merupakan Tempat Penimbunan Kayu (TPK) perusahaan. Lokasi Darmaga yang dijadikan TPK dapat di lihat pada Gambar 2 berikut.

Jaka2

Gambar 2. Kantor dan TPK PT. Wijaya Sentosa (Foto : Letda Opang S.)

Pemandangan yang cukup indah melihat TPK dan kompleks perkantoran yang berada di pinggir laut. Dari seluas ± 5 Ha terlihat tumpukan kayu sebanyak ± 1000 m3 dan perumahan/kantor tertata rapih terhampar di atas permukaan pasir putih dan tanah bercampur tumbuhan hijau, sebagian kayu bulat ada yang sedang dimuat dan sebagian ada yang masih diukur oleh tenaga scaler (pengukur kayu bulat). Hal ini sangat menarik dan layak bilamana dijadikan sebagai ajang wisata logging yang di Indonesia hal ini sudah tidak ada padahal tahun 1950-1960 wisata logging jati (Tectona grandis) ini pernah ada di perusahaan Perhutani Unit I Jawa Tengah.

III. PEMBINAAN HUTAN

Menyadari bahwa kelestarian kawasan hutan tersebut perlu dipertahankan maka perusahaan PT. WS yang memegang IUPHHK-HA melakukan Pembinaan hutan dengan mengadakan rehabilitasi lahan bekas tebangan dengan cara penanaman (reboasasi), membangun chekdam, membangun kebun persemaian dan bina desa sekitar hutan (PMDH). Untuk mengetahui lebih jelas tentang kegiatan penanaman dapat dilihat pada Gambar 3 berikut.

Jaka3

Gambar 3. Penanaman dan kebun semai PT. Wijaya Sentosa (Foto: Maikel)

IV. PENUTUP

Demikian informasi tentang potensi wisata alam yang ada di kawasan hutan produksi yang berada di wilayah kerja perusahaan PT. WS ini. Semoga hal ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membutuhkannya. Akhirul kalam kami ucapkan banyak terima kasih yang tak terhingga kepada KOPASSUS TNI AD yang telah mendukung kegiatan pengkajian semoga Tuhan Y.M.E dapat membalasnya. Amin Ya Robbal Alam.

SUMBER :
1. Atlas Kayu Indonesia. 2005. Atlas Kayu Indonesia Jilid II. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Departemen Kehutanan. Bogor.
2. Ekspedisi NKRI Koridor Papua Barat. 2016. Gd. Pramuka Saka Wiratika, Makopassus Cijantung. Jakarta.

Penulis: Zakaria Basari, BscF dan Dr. Sukadaryati


Lampiran: 0
Agenda Kegiatan Selengkapnya
Abstrak Jurnal Selengkapnya

Profile Peneliti

Statistik

Video ( Klik gambar untuk memulai )