Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Forest Products Research and Development Center

BIOPIRACY, SEBUAH ANCAMAN SERIUS

04 Desember 2017, 11:05 WIB | Diupload oleh Dede Rustandi

Suasana pembahasan Biopiracy

(P3HH INFO)BOGOR, 27/11/2017_ Bertempat di Kampus Litbang dan Inovasi Gunung Batu, Senin 27 November 2017 Biro Kerjasama Luar Negeri, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengadakan brefing pencegahan dan antisipasi dini pengambilan material Sumber Daya Genetik dan Pengetahuan Lokal (SDGPT) Tanpa Prosedur Yang Sah. Hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan seluruh Eselon 1 (satu) dari KLHK, peneliti Badan Litbang dan Inovasi serta staf yang terkait dari seluruh Indonesia.

Sri Murningtyas selaku Kepala Biro Kerjasama Luar Negeri dalam pembukaannya menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman terkait pentingnya urgensi perlindungan sumber daya genetik dan kekayaan intelektual; serta formulasi rekomendasi pencegahan dan antisipasi terhadap kemungkinan biopiracy dari kerjasama penelitian di bidang LHK, melalui penyusunan perjanjian kerjasama yang aman dan menguntungkan semua pihak.

Hal ini dilatarbelakangi oleh adanya ancaman terhadap perjanjian kerjasama penelitian tingkat internasional maupun kegiatan kerjasama riset yang disalah gunakan untuk tujuan komersial menguntungkan pihak tertentu saja.

Tiga narasumber yang berkenan hadir saat itu adalah Miranda Gisang Ayu yang memaparkan perlindungan SDGTK dan HAKI melalui aspek perjanjian kerjasama internasional, Ika Ahyani Kurniati, dari Dirjen Kekayaan Intelektual, Kemenkumham yang membahas perlindungan, pencegahan dan antisipasi dini biopiracy SDGTK dan HKI serta pembicara dari Badan Intelijen Negara (BIN) yang menyampaikan indikasi biopiracy, modus operandi, dan rekomendasi teknis pecegahan dini biopiracy.

Ika Ahyani juga menjelaskan bahwa SDG adalah bahan genetik yang memiliki nilai guna, baik secara nyata maupun dalam bentuk potensi. Bahan genetik adalah unit fungsional hereditas yang terdapat pada tumbuhan, hewan, mikrobiologi maupun jasad renik.
Pengetahuan Tradisional (PT) adalah sebuah karya intelektual di bidang pengetahuan dan teknologi yang mengandung unsur karakteristik warisan tradisional yang dihasilkan, dikembangkan, dan dipelihara, oleh kustodiannya (RUU PTEBT).

Hutan yang ada di Indonesia menyimpan potensi SDG yang luar biasa sehingga kondisi ini penting untuk dijaga dengan baik. Pengetahuan Tradisonal pun banyak muncul dari masyarakat yang ada disekitar hutan. Potensi SDG yang ada di dalam kawasan hutan harus didata dan dikelola dengan baik. Saat ini, terindikasi banyak kegiatan penelitian dan pengembangan yang telah dilakukan dalam rangka pengumpulan informasi dan pemanfaatan SDG untuk tujuan ilmiah maupun komersial. Ancaman terhadap biopiracy ataupun pembajakan SDGPT untuk kepentingan sepihak saat ini sangatlah besar, sehingga perlu diantisipasi sejak dini dan secara bersama-sama.

Modus yang dilakukan oleh pihak luar dalam praktek biopiracy ini bervariasi, sebagai contoh modus biopiracy yang melibatkan mahasiswa Indonesia yang belajar di universitas asing dengan mensyaratkan mahasiswa tersebut untuk membawa sampel kehati dari Indonesia ke luar negeri dengan tujuan sebagai bahan penelitian untuk tesis maupun disertasi. Selain itu, kerjasama luar negeri juga dijadikan modus pengiriman sampel kehati ke luar negeri secara legal maupun ilegal dengan imbalan penulisan makalah bersama dalam jurnal ilmiah internasional. Hal semacam ini perlu diwaspadai dan perlu segera diambil langkah-langkah bersama semua pihak termasuk KHLK agar harga diri bangsa terjaga.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan (P3HH) sebagai salah satu unit litbang di KLHK perlu mengantisipasi adanya praktek biopiracy. P3HH memiliki Xylarium Bogoriense 1915, berupa koleksi kayu yang telah dikumpulkan sejak tahun 1914, pada saat P3HH masih bernama Boschbouw Proefstation. Koleksi contoh kayu yang dimiliki dan dikumpulkan dari hutan Indonesia, saat ini berada di peringkat ke-3 dunia dengan jumlah koleksi kayu sekitar 45.006 sampel kayu yang tergabung dalam 110 suku, 675 marga dan 3667 spesies. Koleksi kayu tersebut harus dijaga agar tidak dimanfaatkan oleh pihak lain. Secara teknis, sistem tukar menukar sampel hayati perlu dilengkapi dengan dokumen Material Transfer Agreement (MTA) yang mengatur tanggung jawab dan hak atas bahan penelitian tersebut dengan prinsip saling menguntungkan dan berkeadilan. ***KHA

Biopriracy




Biopriracy3



Biopriracy4

Penulis: Khuswantoro Akhadi, S.Hut., M.A.P

Editor: Dr. Krisdianto


Lampiran: 0
Agenda Kegiatan Selengkapnya
Abstrak Jurnal Selengkapnya

Profile Peneliti

Statistik

Video ( Klik gambar untuk memulai )