Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Forest Products Research and Development Center

BLI BERPERAN DALAM MEWUJUDKAN KELEMBAGAAN LABORATORIUM FORENSIK YANG DIINISIASI KLMB

20 Maret 2018, 15:06 WIB | Diupload oleh Dede Rustandi

P3HH (Yogyakarta, Senin 12/03/2018) - Bertempat di Yogyakarta telah dilangsungkan Focus Group Discussion (FGD) kelembagaan Klinik Lingkungan dan Mitigasi Bencana (KLMB). Acara ini dibuka oleh Sekditjen Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Ir. Kemal Amas, M.Sc. Dalam sambutan pembukaannya Kemal Amas menyampaikan bahwa saat ini pengelolaan Lingkungan Hidup sangat komplek dan dinamis, mencakup persolaan yang luas, lintas batas, bukan hanya masalah lokal aja sehingga perlu didukung semua pihak. “Kesadaran dari berbagai pihak untuk mencegah kerusakan lingkungan perlu ditanamkan”, tegas Kemal.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama KLMB sepakat membangun laboratorium forensik Indonesia berskala internasional, hal ini diinisiasi saat kunjungan Menteri LHK di kampus Universitas Gadjah Mada (UGM). Menteri LHK prihatin akan bencana bencana yang terjadi serta kondisi lingkungan hidup yang makin menurun kualitasnya. Laboratorium forensik yang akan dibangun akan memiliki fungsi kelitbangan, layanan mitigasi, membangun jejaring dalam skala nasional dan internasional, dengan melibatkan pakar-pakar terkait. Permasalahan hukum lingkungan hidup dan kehutanan akan memerlukan kajian ilmiah untuk membantu dalam penyidikannya.

Laboratorium forensik yang akan dibentuk akan menjadi pusat data dan informasi, mengkoordinir laboratorium yang ada baik lingkup KLHK maupun UGM, monitoring dan evaluasi laboraboratorium yang ada, sebagai pusat pembelajaran, penguatan jaringan, memberikan pelatihan bagi PNS KLHK, serta sarana pengaduan.

Prof. Suratman, selaku ketua KLMB menuturkan bahwa tujuan besar adalah membangun jejaring pusat unggulan forensik di nasional dan internasional. Dalam FGD ini akan dibahas bagaimana bentuknya, bagaimana tata kelolanya, seperti apa sistem operasionalnya, sapa hulu hilirnya, usernya, serta bagaimana pendanaannya.

Suratman mengatakan “Sementara ini yang teridentifikasi ada 7 (tujuh) laboratorium KLHK dan 14 laboratorium UGM. Dari sejumlah laboratorium tersebut akan digali keunggulan masing-masing laboratorium, penggunanya, peralatan dan sarprasnya, akreditasinya, registernya dan pakar yang tersedia. Dari situ kemudian akan diperoleh sistem tata kelola kelembagaan KLMB dan mempersiapkn dokumen-dokumen untuk operasional jejaring laboratorium forensik.”

Pada FGD ini diawali dengan 4 paparan pemantik yaitu "Langkah dalam pengembangan dan inovasi Laboratorium Forensik di Indonesia oleh Kepala Badan Litbang dan Inovasi (BLI) yang diwakili oleh Dr. Ir. Dwi Sudharto, M.Si yang merupakan Kepala Pusat Litbang Hasil Hutan (P3HH). Dwi menyampaikan bahwa BLI saat ini mempunyai keungulan baik fasilitas dan pakarnya. P3HH mempunyai Xylarium Bogoriense 1915 yang sudah berdiri sejak tahun 1915 dengan koleksi kayu lebih dari 45.000 sampel kayu dari seluruh dunia dan merupakan nomor 3 dunia. Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (Babes BPTH) di Yogyakarta mempunyai laboratorium genetika molekuler, Pusat Litbang Kualitas dan Laboratorium Lingkungan (P3KLL) di Serpong memiliki 6 laboratorium pengujian dan 1 laboratorium kalibrasi yang kesemuanya telah terkreditasi KAN serta kepakaran yang mumpuni. Sedangkan di Pusat Litbang Hutan mempunyai herbarium dan laboratorium INTRO-CC yang fokus pada penelitian mikroba yang berfungsi untuk menilai kesehatan hutan dan kerusakan hutan.

Pelayanan pengujian untuk berbagai kasus kejahatan LHK pernah dilakukan oleh puslitbang yang ada. Umumnya pengguna berasal dari bea cukai, kejaksaan, kepolisian, Direktorat Penegakan Hukum KLHK, masyarakat dan perusahaan. BLI siap mendukung dan berkolaborasi dengan KLMB untuk membentuk laboratorium forensik berstandar internasional. Di akhir paparannya Dwi berharap agar legalitas KLMB ini diperkuat kembali sehingga nanti integrasinya akan kokoh, jika perlu ditetapkan dengan Keputusan Presiden.

Paparan kedua, Prof. Supratman dengan berjudul Manajemen Kolaborasi dan Inovasi Laboratorium Foresnsik di Indonesia. Dalam penyampaiannya ditekankan bahwa forensik di dunia belum banyak, saat ini kita menuju nomor satu di ASEAN.

Paparan ketiga yang berjudul Peraturan dan Ketentuan Hukum Perlindungan Laboratirum Forensik di Indonesia oleh Direktur Penegakan Hukum Pidana Ditjen Gakum, yang diwakili oleh Dulhadi selaku Kasubdit Penyidikan Pembalakan Liar dan Kejahatan Kehati. Dulhadi, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi ini, karena dari 5 tugas besarnya hampir semuanya membutuhkan kajian ilmiah untuk memperkuat barang buktinya. Kunci perkara KLHK harus diperbanyak bukti dan saksinya, termasuk saksi ahli-saksi ahli.

Paparan terakhir disampaikan oleh Kepala Biro Perencanaan yang diwakili oleh Joko Suwarno, Kasubdit Kerjasama Luar Negeri. Adapun judulnya Membentuk perencanaan dan tata kelola laboratorium fornsik di Indonesia. Dalam kolaborasi ini sebaiknya segera disiapkan dokumen perencanaannya baik jangka panjang, menengah dan pendeknya berikut target dan strategi pencapaiannya. Disamping itu sumber pendanaanya juga harus jelas. Joko menambahkan bahwa laboratorium forensik ini harus menerapkan asas good governance untuk pelayanan publik.

Acara dilanjutkan diskusi dan penyampaiaan dari masing-masing laboratorium di UGM untuk menyusun peta potensi. Masing-masing laboraorium diminta mengisi profilnya. Diakhir pertemuan disampaikan tujuh poin penting yaitu sistem informasi laboratorium forensik nasional, sistem tatakelola, penyusunan landasan hukum, menghidupkan lintas jejaring antara laboratorium dan ssstem pengaduan, penguatan laboratorium yang terkait, penyusunan roadmap, serta diseminasi masyarakat. (KA)

Penulis : Khuswantor Akhadi, S.Hut, M.Sc

Editor : Tipuk Purwandari, S.Kom, M.Sc

Agenda Kegiatan Selengkapnya
Abstrak Jurnal Selengkapnya

Profile Peneliti

Statistik

Video ( Klik gambar untuk memulai )

XYLARIUM BOGORIENSE 1915.