Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Forest Products Research and Development Center

SELAYANG PANDANG BAMBOO AND RATTAN CONGRESS (BARC) 2018 DI BEIJING, CHINA

05 Juli 2018, 15:30 WIB | Diupload oleh Dede Rustandi

Penulis dengan latar belakang spanduk kongres

P3HH (Cina, 25 Juni 2018) - Salah seorang peneliti Pusat Litbang Hasil Hutan, Dr. Karnita Yuniarti berkesempatan menghadiri Bamboo and Rattan Congress (BARC) 2018 yang diselenggarakan di China National Convention Center, Beijing, Cina, pada 25-27 Juni 2018 lalu. Kongres global bambu dan rotan ini merupakan yang pertama kali dan diadakan atas kerjasama INBAR (International Network on Bambu and Rattan) dan China State Forestry Administration. Tujuan utama kongres adalah untuk memperoleh kesepakatan politis secara global dalam memaksimalkan kontribusi bambu dan rotan untuk mencapai beberapa target program pembangunan dunia berkelanjutan (sustainable development goals/SDG) yang telah dicanangkan oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak 21 Oktober 2015. Bambu dan rotan diyakini mampu memberikan kontribusi yang nyata terhadap beberapa program SDG tersebut, diantaranya pengentasan kemiskinan, energi hijau, perumahan dan konstruksi, kelestarian pangan, perubahan iklim, konservasi keanekaragaman hayati dan kerjasama antara negara-negara berkembang (south to south cooperation).

Tema BARC 2018 adalah 'Enhancing South-South Cooperation for Green Development through Bambu and Rattan's Contribution to the Sustainable Development Goals'. Sebanyak 1200 partisipan tercatat menghadiri acara pembukaan kongres, termasuk 500 pengunjung dari negara-negara di luar Cina. Agenda kongres terdiri atas Ministerial Summit, High-level dialogues (dialog tingkat tinggi), sesi diskusi parallel dan pameran produk-produk dari bambu dan rotan.

Ministerial summit dihadiri oleh perwakilan beberapa organisasi internasional seperti UNDP dan FAO serta beberapa negara seperti Cina, Jamaica, Nepal, Sudan Selatan dan Venezuela yang menyampaikan paparan singkat tentang perkembangan pemanfaatan bambu dan rotan di negara atau organisasi masing-masing. Acara dilanjutkan dengan diskusi panel yang dihadiri perwakilan beberapa negara seperti Nigeria, Uganda, Ghana, Panama, Philippines dan Kamboja. Panel membahas peranan dan perkembangan bambu dan rotan untuk kontribusi terhadap kontribusi masyarakat dan perekonomian di negara-negara tersebut.

Dialog tingkat tinggi dilangsungkan setiap harinya dengan tema yang berbeda. Pemateri untuk setiap sesi dialog tingkat tinggi juga umumnya adalah perwakilan lembaga-lembaga tinggi dari beberapa negara dan/atau organisasi internasional. Dialog tingkat tinggi pada hari pertama mengangkat tema South-South Cooperation and the Belt and Road Initiative. Dialog dibuka oleh INBAR dan disusul dengan 3 presentasi utama yang disampaikan oleh perwakilan dari pemerintahan Cina yang menyampaikan kontribusi industri bambu di kota Yong’an yang mencapai US$ 1.01 trilyun pada tahun 2017 serta pengiriman tenaga-tenaga professional dalam pengolahan bambu ke negara berkembang lainnya untuk program peningkatan kapasitas. Presentasi kedua disampaikan oleh International Fund for Agricultural Development (IFAD) yang mempresentasikan hasil kerjasama dengan Cina dan INBAR dalam merehabilitasi lahan hutan di area pegunungan di Cina dan berbagi pengalaman dalam pertukaran pengetahuan tentang inisiasi penghijauan dengan beberapa negara-negara di Afrika seperti Ghana, Kamerun, Madagaskar dan Ethiopia selama 3 tahun terakhir dan presentasi terakhir disampaikan oleh INBAR yang menyoroti perkembangan hal-hal menarik terkait bambu dan rotan, diantaranya meningkatkan dukungan terhadap swasta untuk pemasaran produknya di level internasional, meningkatkan keterlibatan wanita dalam pemanfaatan kedua komoditi hingga pemanfaatan lahan hutan bambu sebagai habitat hewan liar seperti panda.

Pada hari kedua, tema dialog tingkat tinggi adalah Bamboo and Rattan for Climate Change and Green Growth. Dialog dibuka oleh United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) dan disusul dengan 3 presentasi utama yang disampaikan oleh perwakilan UNFCCC yang menekankan pentingnya peran bambu dan rotan dalam mencapai target-target kesepakatan Paris 2015 tentang Perubahan Iklim dan Agenda 2030 tentang Pembangunan Berkelanjutan, perwakilan Uganda menyampaikan pentingnya bambu untuk mencapai visi dan misi yang diusung forum perubahan iklim negara tersebut dan perwakilan dari Delft University of Technology, Belanda yang menyampaikan pentingnya tanaman bambu untuk proses penyerapan karbon dan mitigasi iklim, juga untuk konstruksi bangunan.

Tema dialog tingkat tinggi pada hari terakhir adalah tentang Technology Innovations and Industry Development. Dialog dibuka oleh Veerle Vanderweed, perwakilan dari Global Science, Technology and Innovation Conferences (G-STIC) dan disusul dengan 3 presentasi utama yang disampaikan oleh perwakilan International Center on Bamboo and Rattan (ICBR) yang menyampaikan nilai kontribusi produk bambu di Cina mencapai US$35.9 bilyun dengan nilai ekspor US$ 1.9 bilyun pada tahun 2017. Selain itu, disampaikan pula beberapa usaha untuk mendorong penetapan standar internasional untuk mempermudah penetrasi produk bambu di pasra internasional, diantaranya adalah penetapan sekretariat komite teknis ISO 296 tentang bambu dan rotan di Cina. Presentasi kedua oleh CIFOR menyampaikan pentingnya penerapan inovasi di tingkat struktur organisasi selain inovasi dalam bidang teknologi pengolahan bambu. Salah satu contoh inovasi dimaksud antara lain adalah pemanfaatan drone untuk survey forest dan presentasi ketiga oleh Green School dari Bali yang menyampaikan penggunaan bambu ukuran panjang untuk bangunan walaupun peraturan lokal yang ada mengharuskan maksimal panjang bambu yang digunakan adalah 6 meter.

Pada sesi penutupan kongres, disampaikan beberapa hasil signifikan telah dicapai melalui penyelenggaraan kongres tersebut. Diantaranya adalah kesepakatan untuk menyelenggarakan workshop lanjut terkait pendirian Taman Nasional Panda (sebagai salah bentuk upaya pemanfaatan lahan bambu bagi satwa liar), didirikannya pusat pelatihan bambu dan rotan Cina-Afrika di Ethiopia, pendirian kantor regional INBAR di benua Afrika di Ya’onde, Kamerun, disetujuinya Deklarasi Beijing oleh sebagian besar negara-negara anggota INBAR serta ditanda tanganinya beberapa kesepakatan antara INBAR dengan FAO, UNESCO dan ITTO.

BSK2

Acara pembukaan kongres Senin, 25 Juni 2018



BSK3

Hall contoh pemanfaatan bambu dan rotan di area Afrika




BSK4

Hall contoh pemanfaatan bambu dan rotan di area Asia Pasifik


Penulis : Karnita Yuniarti
Editor : Tipuk Purwandari


Lampiran: 0
Agenda Kegiatan Selengkapnya
Abstrak Jurnal Selengkapnya

Profile Peneliti

Statistik

Video ( Klik gambar untuk memulai )