Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Forest Products Research and Development Center

WUJUDKAN XYLARIUM INDONESIA NO 1 DUNIA, BLI KLHK GALANG SINERGI DAN KOLABORASI DENGAN PARA PIHAK

29 Agustus 2018, 08:50 WIB | Diupload oleh Dede Rustandi

P3HH (Bogor, 28 Agustus 2018) - Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki megadiversitas berupa keragaman flora dan fauna. Keragaman hayati dari hutan tropis diantaranya jenis pohon penghasil kayu yang berjumlah kurang lebih 4.000 jenis. Untuk pengembangan IPTEK dan dokumentasi, jenis-jenis kayu tersebut perlu dikoleksi dalam Xylarium yang merupakan perpustakaan kayu yang berisi koleksi kayu autentik.

“Indonesia adalah negara dengan keragaman hayati yang sangat besar, semestinya mampu menjadi xylarium dengan jumlah spesimen terbesar di dunia” ujar Dr. Agus Justianto, Kepala Badan Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BLI, KLHK) pada acara Sosialiasi Rencana Pengembangan Xylarium Indonesia Menuju No 1 Dunia untuk Menunjang Sistem Identifikasi Kayu Berbasis Mobile dan Cloud System.

Kegiatan ini terselenggara atas dukungan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Acara yang diselenggarakan di Ruang Rapat Cendana Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan (P3HH) pada Selasa, 28 Agustus 2018 dihadiri oleh perwakilan dari KLHK, Kemenristekdikti, Pemerintah Daerah Kota Bogor, beberapa instansi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Perhutani, Inhutai, dan Perguruan Tinggi.

“Xylarium juga merupakan pangkalan data utama untuk pengembangan alat identifikasi otomatis berbasis computer vision yang saat ini sedang dikembangkan oleh tim kerjasama antara P3HH, BLI, KLHK dengan P2I, LIPI. Alat tersebut merupakan salah satu inovasi dan terobosan yang luar biasa, terutama untuk meningkatkan efisiensi waktu identifikasi kayu konvensional yang memerlukan waktu 1-2 minggu menjadi hanya dalam hitungan detik,” tambah Agus.

Seperti telah diketahui, bahwa Xylarium Bogoriense 1915 yang berada di P3HH adalah satu-satunya xylarium di Indonesia yang telah tercatat dalam Index Xylariorum, Instituonal Wood Collection of the World sejak tahun 1975 (kode BZFw), dan tercatat dalam Index Herbariorum Indonesianum. Dengan jumlah koleksi 67.864 sampel kayu (110 suku, 785 marga dan 3.667 species), Xylarium Bogoriense 1915 ini berada pada urutan keempat dunia setelah Belanda, Amerika dan Belgia.

Menurut Agus koleksi kayu Xylarium Bogoriense 1915 masih perlu terus diperkaya dengan berbagai jenis kayu terutama yang berasal dari Papua, pulau-pulau kecil, dan daerah perbatasan. Mimpi untuk menjadikan Xylarium Indonesia sebagai xylarium terbesar di dunia tentu perlu usaha dan upaya yang besar dan tidak akan terwujud dalam waktu singkat dengan upaya sendiri.

“Disini saya tekankan pentingnya sinergi dan kolaborasi. BLI proaktif menjaring dan menggalang sinergi dan kolaborasi dengan banyak pihak. Menteri LHK memberikan dukungan konkrit untuk pengembangannnya melalui penggalangan dukungan dari para Gubernur di seluruh Indonesia untuk membantu pengembangan jumlah spesimen kayu,” katanya.

Pada akhir sambutannya, Kepala BLI menyampaikan penghargaan kepada Kemenristekdikti yang berkomitmen mendukung pengembangan Xyalarium Bogoriense 1915 menjadi nomor 1 dunia.

“Secara khusus terima kasih dan penghargaan saya sampaikan kepada Kemenristekdikti yang tiada henti turut bekerja keras untuk pengembangan Xylarium” pungkasnya.

Sejalan dengan ungkapan Kepala BLI, Dr. Eng Hotmatus Daulay, M.Eng, Direktur Pengembangan Teknologi Industri Kemenristekdikti menegaskan kembali komitmen Kemenristekdikti dalam mewujudkan Xylarium Indonesia menjadi no 1 Dunia.

XylNo1a



XylNo1b


Lampiran: 0
Agenda Kegiatan Selengkapnya
Abstrak Jurnal Selengkapnya

Profile Peneliti

Statistik

Video ( Klik gambar untuk memulai )