Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Forest Products Research and Development Center

AIKO KLHK KINI TELAH TERSEDIA UNTUK PUBLIK

06 September 2019, 09:58 WIB | Diupload oleh Dede Rustandi


P3HH (Jakarta, 29 Agustus 2019) - Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan jenis tanaman hutan, tidak kurang dari ±4.000 jenis kayu. Setiap jenis kayu memiliki karakteristik yang unik sehingga perlu metode identifikasi yang akurat agar tidak terjadi kesalahan dalam menentukan jenis kayu.

Identifikasi kayu merupakan proses penentuan suatu jenis kayu berdasarkan ciri struktur anatomi kayu yang dimilikinya. Identifikasi ini diperlukan tidak hanya untuk menentukan pemanfaatan suatu jenis kayu dalam industri, namun juga digunakan untuk mendukung bioforensik dalam penanganan perkara hukum yang mana kayu digunakan sebagai barang bukti. Kesalahan penentuan jenis kayu dapat menimbulkan kerugian finansial sehingga tidak ada toleransi untuk melakukan kesalahan dalam mengidentifikasi kayu. Hanya ada dua kemungkinan yang terjadi akibat kesalahan tersebut, negara yang dirugikan atau perusahaan yang dirugikan.

Saat ini, identifikasi kayu dapat dilakukan secara makroskopis dan mikroskopis menggunakan preparat tipis di Laboratorium Anatomi Lignoselulosa Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan (P3HH) dengan merujuk pada berbagai pustaka serta koleksi kayu Xylarium Bogoriense yang telah dikumpulkan dari seluruh wilayah Indonesia sejak tahun 1914. Koleksi kayu Xylarium Bogoriense adalah yang terbesar di dunia dengan jumlah koleksi mencapai lebih dari 193 ribu spesimen terdiri atas 110 suku, 675 marga, dan 3.667 jenis kayu otentik.

Keterbatasan ilmu, teknologi, dan kemampuan sumber daya manusia yang ada menyebabkan proses identifikasi kayu hingga saat ini hanya dapat dilakukan oleh peneliti atau petugas yang telah terlatih dan berpengalaman. Kondisi personalitas sangat menentukan hasil dan lamanya waktu melakukan identifikasi. Kemungkinan terjadinya kesalahan identifikasi tentu dapat dikurangi seandainya ketersediaan pakar identifikasi kayu tercukupi. Namun, untuk menyediakan pakar identifikasi kayu dengan kemampuan yang diakui bukan hal yang mudah. Kemampuan pengenalan kayu memerlukan dasar ilmu dan pelatihan yang sangat panjang. Selain itu, metode identifikasi kayu berdasarkan ciri makroskopis dan mikroskopis hanya mampu mengidentifikasi hingga level genus/marga, dan sulit untuk membedakan hingga tingkat spesies atau bahkan membedakan antar pulau/lokasi asal kayu.

Pelaksanaan identifikasi kayu manual di laboratorium, memerlukan waktu 1-2 minggu melalui pencermatan terhadap 163 karakter kayu. Hal ini mendorong P3HH berinovasi dan sejak tahun 2011 menginisiasi pengembangan alat identifikasi kayu otomatis untuk mempercepat proses identifikasi jenis kayu agar dapat memberikan layanan uji identifikasi secara cepat yang terus meningkat setiap tahun. Pada tahun 2017 – 2018, P3HH melakukan kerjasama INSINAS didanai oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tingga (Kemenristekdikti) mengembangkan alat identifikasi kayu otomatis.

Inovasi tiada henti terus dilakukan, pada tahun 2019 P3HH berhasil mengembangkan aplikasi alat identifikasi kayu otomatis yang diberi nama “AIKO-KLHK” .

AIKO-KLHK adalah sistem identifikasi kayu otomatis berbasis android yang mampu memangkas identifikasi kayu dari 1-2 minggu menjadi hitungan detik. Basis data AIKO-KLHK dikembangkan dari koleksi kayu autentik Xylarium Bogoriense, perpustakaan kayu terbesar di dunia yang dibangun dan dikelola oleh P3HH sejak tahun 1915. AIKO-KLHK mampu mengidentifikasi 823 jenis kayu perdagangan Indonesia. AIKO-KLHK juga memberikan informasi nama dagang, kegunaan kayu, status konservasi, asal geografis dan informasi sifat kayu lainnya.

AIKO-KLHK memiliki beberapa keunggulan yaitu:
1. Menggunakan platform manajemen formasi berbasis Web & Android sehingga rekaman data pengguna di AIKO-KLHK dan database Xylarium Bogoriense akan memungkinkan pendataan dan pemetaan jenis-jenis kayu di Indonesia yang dapat menjadi informasi yang sangat berguna.

2. Memiliki basis data 823 jenis kayu dari semula 144 jenis kayu,

3. Mampu memberikan informasi status konservasi kayu berdasarkan Permen LHK, CITES dan IUCN selain menyajikan data dasar, kelas pengelompokan kayu perdagangan hingga rekomendasi penggunaan kayu,

4. Memberikan informasi asal lokasi geografis kayu berdasarkan kedekatan struktur anatomi dengan koleksi kayu autentik di Xylarium Bogoriense dari lokasi tertentu,

5. Data disimpan di server BLI/KLHK sehingga meningkatkan keamanan data dan mempercepat akses, serta memungkinkan untuk diintegrasikan dengan SIPUHH online

6. Dapat digunakan secara online (daring) maupun offline (luring)

7. Memiliki fasilitas pencarian pada menu ‘Pustaka’ yang memungkinkan penelusuran informasi suatu jenis kayu dilengkapi foto makroskopis yang tersimpan.

AIKO KLHK secara resmi telah diluncurkan ke publik pada 29 Agustus 2019, bertepatan dengan Gelar Kebangsaan yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta. Aplikasi AIKO dapat diunduh secara gratis di Google Play Store.

Kepala P3HH, Dr. Ir. Dwi Sudharto dalam wawancara mengatakan bawah AIKO-KLHK akan terus dikembangkan, baik jenis kayu, kemutakhiran sistem, maupun informasi lain yang disajikan.


AIKO-KLHK2bc

Agenda Kegiatan Selengkapnya
Abstrak Jurnal Selengkapnya

Profile Peneliti

Statistik

Video ( Klik gambar untuk memulai )