free hit counter javascript
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN
Forest Research and Development Agency
PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
KETEKNIKAN KEHUTANAN DAN PENGOLAHAN
HASIL HUTAN

The Center for Research and Development on Forest Engineering and Forest Products Processing
PENGUJIAN KETAHANAN BILAH BAMBU Petung (Dendrocalamus asper (Schults f.) Backer ex Heyne) TERHADAP JAMUR DENGAN CARA HAMPARAN TANAH
18 Februari 2013, 13:48 WIB | Dede Rustandi

Keawetan merupakan salah satu aspek penting dalam penelitian sifat dasar bambu. Sebagai bahan berlignoselulosa alami, bambu mudah diserang organisme perusak termasuk jamur. 

Pengujian ketahanan bambu terhadap organisme perusak pada umumnya mengikuti metode laboratorium yang telah diterapkan pada kayu, seperti penggunaan bacto agar. Pengujian dengan hamparan tanah merupakan salah satu alternatif untuk menguji ketahanan bambu terhadap jamur, karena metode ini murah dan mudah dilakukan.

Tulisan ini mempelajari cara pengujian keawetan bilah bambu dengan metode hamparan tanah. Contoh uji bilah bambu diambil dari bagian dalam (i), tengah (m) dan luar (o) dan bagian pangkal (B), tengah (M) dan ujung (T). Hasilnya menunjukkan bilah bambu dari bagian dalam (i) lebih mudah diserang jamur dari bagian tengah (m) dan luar (o).

Setelah enam bulan, contoh uji dari bagian dalam gagal dalam uji tusuk dan uji patah dengan tangan, sedangkan bilah dari bagian tengah gagal setelah delapan bulan pengujian. Contoh uji yang diuji dengan kemampuan tanah menahan air 100% lebih mudah terserang jamur dari pada contoh uji yang ditanam pada tanah yang mampu menahan air 80%. 

Bilah bambu dari bagian bawah (B) lebih tahan terhadap serangan jamur dari bagian tengah (M) dan atas (T), namun perbedaannya kurang nyata. Pada umumnya pengujian bilah bambu dengan hamparan tanah dapat dijadikan metode pengujian alternatif  untuk menentukan keawetan bilah bambu terhadap jamur.

Pengujian ketahanan jamur di lapangan dilakukan dengan meletakkan contoh uji di luar ruangan sehingga faktor alami dan fluktuasinya ikut mempengaruhi serangan jamur terhadap
kayu. Dalam hal ini, serangan lebih terbuka tidak hanya oleh jamur Basidiomycetes saja, tetapi juga bakteri, cendawan dan jamur-jamur lain yang mampu mendegradasi kayu atau bambu.

Bahan dan alat yang digunakan dipisahkan menjadi dua, yaitu pengujian hamparan tanah dan contoh uji bambu. Untuk pengujian hamparan tanah, tanah yang tidak steril dipersiapkan dari areal perkebunan apel di Creswick, Australia dengankedalamantanahkuranglebih10–30cm dari permukaan. Contoh uji bilah bambu yang digunakan adalah bambu petung (Dendrocalamus asper (Schults f.) Backer ex Heyne) yang dikumpulkan didaerah Bantul, Yogyakarta.
 
Selengkapnya silahkan unduh di Jurnal Penelitian Hasil Hutan : 


« Kembali ke indeks InfoTerkini